Sabtu, 27 Juli 2019

Masruq bin Al-Ajda'




Masruq bin Al-Ajda’ Al-Hamdani Al-Wadi’i Abu Aisyah Al-Kufi. Dialah Masruq bin Al-Ajda’ bin Malik bin Umayyah bin Abdullah bin Murri bin Salman ( Salaman) bin Muammar bin Al-Harits bin Sa’ad bin Abdullah bin Wadi’ah.
Mengenai kelahiran beliau tak ada penulis biografinya yang menulis tanggal dan tempat kelahirannya. Hanya saja mereka memberi keterangan bahwa dia meninggal pada tahun 62 atau 63 Hijriyah.

Al-Mizzi berkata, “Masruq meriwayatkan dari beberapa orang yang diantaranya; Ubay bin Ka’ab, Khabab bin Al-Art, Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Umar bin Al-Khathab, Abdullah bin Amr bin Al-Ash, Abdullah bin Mas’ud, Ubaid bin Umair Al-Laitsi, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Umar bin Al-Khathab, Muadz bin Jabal, Ma’qil bin Sinan Al-Asyja’I, Al-Mughirah bin Syu’bah, Abu Bakar Ash-Shiddiq, Subai’ah Al-Aslamiyah, sayyidah Aisyah istri Rasulullah dan ibunya Ummu Ruman, dan Ummu Salamah istri Rasulullah.”

Al-Mizzi berkata: “Ada beberapa orang meriwatkan hadist dari Masruq diantaranya; Ibrahim An-Nakha’I, Anas bin Sirin, Ayyub bin Hani’, Jabal bin Rufaidah, Abu Wail Syaqiq bin Salamah, ‘Amir Asy-Sya’bi, Abdullah bin Murrah Al-Kharaqi, Abdurrahman bin Abdullah bin Mas’ud, Ubaid bin Nadhlah, Amarah bin Umair, Al-Qasim bin Al-Muntasyir bin Al-Ajda’, Muhammad bin An-Nasyr Al-Hamdani, Abu Adh-Dhuha Salam bin Shabih, Makhul bin Asy-Syami, Yahya bin Al-Jazzar, Yahya bin Watstsab, Abu Al-Ahwash Al-Jusyami, Abu Ishaq As-Suba’I, Abu Asy-Sya’ta Al-Muharibi dan istrinya Umair binti Amr.”

Asy-Sya’bi berkata, “Ketika Ubaidillah bin Ziyad dating ke Kuffah, dia bertanya, “Siapakah orang yang terbaik di antara kalian?” mereka menjawab, “Masruq.”

Yahya bin Mu’in berkata, “Masruq adalah orang yang dapat dipercaya dan tidak ada orang yang menyamainya. Utsman bin Said bertanya kepadaYahya tentang Masruq dan kepada Urwah mengenai sayyidah Aisyah, maka dia tidak ragu lagi.”

Ibnu Sa’ad berkata, “Dia adalah tsiqah (orang yang dapat dipercaya perkataan dan berita yang dibawanya) dan dia banyak mempunyai hadits yang layak diriwayatkan.”

Abu Nu’aim berkata, “Diantara para teman Abdullah bin Mas’ud, terdapat seseorang yang sangat takut dan sangat cinta kepada Tuhannya dan selalu ingat akan banyaknya dosa yang telah dilakukannya. Dia sangat dihormati keilmuannya, dapat dipercaya dan selalu ingin bertemu kepada Tuhannya dengan memperbanyak ibadah; dialah Abu Aisyah bernama Masruq.”

Dari Ibrahim bin Muhammad bin Al-Muntasyir, dia berkata, “Masruq memasang penutup antara dia dengan anggota keluarganya ketika shalat agar khusuk dalam shalatnya, meninggalkan mereka dan dunia mereka.”

Anas bin Sirrin dari istri Masruq, dia berkata, “Masruq banyak melakukan shalat hingga kedua kakinya membengkak. Seringkali aku duduk di belakangnya sambil menangis karena tidak tega melihat apa yang dilakukannya.”

Dari Al-A’masy bin Abi Adh-Dhuha, dia berkata, “Masruq banyak bangun malam dan melakukan shalat layaknya seorang rahib. Dia pernah berkata keluarganya, “Sebutkanlah semua kebutuhan kalian kepadaku sebelum aku melakukan shalat (agar tidak terganggu dalam shalatnya).”

Diriwayatkan dari Muslim, dari Masruq, ia berkata, “Cukuplah seseorang tahu maksud dari rasa takut kepada Allah. Dan seseorang akan menjadi bodoh, jika dia merasa bangga dengan apa yang telah diperbuatannya.”

Masruq berkata, “Hendaknya seseorang mempunyai tempat yang sunyi, sehingga dapat digunakannya untuk merenungi diri, merenungi dosa-dosanya dan meminta ampunan kepada Allah.” 

Dari Abu Adh-Dhuha, dia berkata, “Pernah Masruq memberikan suatu pertolongan kepada seseorang, kemudian datang seorang wanita memberikan hadiah kepadanya, sehingga Masruq sangat marah dan berkata, “Kalaulah aku tahu bahwa sifat seperti itu terdapat dalam dirimu, niscaya aku tidak mau berbicara denganmu untuk selamanya, selama hal itu masih ada dalam dirimu. Aku pernah mendengar Abdullah bin Mas’ud berkata,
“Barangsiapa memberikan suatu pertolongan kepada seseorang untuk dapat mengembalikan haknya atau menghindarkannya dari suatu kezhaliman yang menimpanya, kemudian dia menerima hadiah dari orang itu, maka perbuatan itu adalah suatu kebinasaan.”
Mendengar itu, orang-orang di sekitarnya berkata, “Kami tidak menganggap kebinasaan kecuali jika bertujuan menyuap.” Masruq menimpali, “Jika berniat menyuap, maka itu adalah suatu kekufuran.”

Dari Asy-Sya’bi, dia berkata, “Pernah Masruq berkata, “Sesungguhnya ketika aku memutuskan perkara dalam suatu pengadilan yang sesuai dengan kebenaran atau aku mendapatkan kebenaran (dalam berijtihad) adalah lebih aku cintai daripada berjuang (perang) selama satu tahun di jalan Allah.”

Dari Ibrahim bin Muhammad bin Al-Muntasyir dari Masruq, dia berkata, “Tidaklah ada yang lebih baik bagi seseorang mukmin dari kuburan yang dapat dijadikannya tempat beristirahat dari kebisingan dunia dan di dalamnya dia aman dari siksa Allah.”

Dari Syafiq, dia berkata, “Masruq pernah dirantai selama dua tahun. Selama itu dia habiskan untuk melakukan shalat dua rakaat-dua rakaat dengan maksud mendapatkan pahala sunnah Rasulullah.”

Dari Al-A’masy dari Syafiq, dia berkata, “Aku pernah berkata kepada Masruq, “Apa yang menyebabkanmu diperlakukan seperti ini?” Dia menjawab, “Ada tiga sebab yang menyebabkanku seperti ini, yaitu: Ziyad, Syuraih dan setan hingga akhirnya mereka menjadikanku seperti ini.”

Dari Abu Wail, dia berkata, “Bahwasanya ketika menjelang kematiannya, Masruq berkata, “Ya Allah, aku tidak ingin meninggal dengan tidak mengikuti petunjuk Rasulullah, tidak pula Abu Bakar dan Umar bin Khathab Radhiyallahu Anhum. Demi Allah, aku tidak meninggalkan sesuatu pun kepada seseorang kecuali sesuatu yang melekat pada pedangku ini, maka masukkanlah ia dalam kafanku ini nanti.”

Sufyan bin Uyainah berkata, Masruq meninggal dunia pada tahun 63 Hijriyah. Dia adalah seorang perawi yang dapat dipercaya dan mempunyai banyak hadits shahih.”

Abu Nu’aim berkata, “Masruq meninggal dunia pada tahun 62 Hijriyah.”
Yahya bin Bakir dan Ibnu Sa’ad berkata, “Dia meninggal pada tahun 63 Hijriyah.”

Tidak ada komentar:

Kawan..., silahkan tinggalkan pesan...

Nama

Email *

Pesan *