Selasa, 24 April 2018

Fuqoha’ Makkah dan Madinah dan Pengaruhnya Terhadap Perkembangan Fiqih Pada Abad 1-2 H









KATA PENGANTAR

Segala puja dan syukur hanya milik Allah semata, tidak sekutu bagi-Nya Robb semesta alam, yang telah memberikan banyak nikmat kepada hamba-Nya, diantaranya nikmat akal pikiran, nikmat kesehatan dan berbagai kenikmatan lain yang tidak terhitung lagi jumlahnya.
Shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada tauladan kita nabi Muhammad Shalawallohu’Alaihi wa Salam yang telah menuntun dan mengajarkan kepada umatnya suatu risalah yang suci.
Dengan kehendak Allah Subhanallahu  wa Ta’ala, penulis diberi kesempatan untuk menulis makalah ini, dengan judul "Fuqoha’ Makkah dan Madinah dan Pengaruhnya Terhadap Perkembagan Fiqih abad 1-2" untuk memenuhi tugas akademik dan agar penulis memahami materi ini dengan baik. Saran yang membangun dan kritikan atas kesalahan-kesalahan yang terdapat pada makalah ini sangat dibutuhkan, karna penulis sadari banyaknya kekurangan pada makalah ini.





                                                            Penulis

                                                            Hurin’In Himmatul Husnayain




BAB I
PENDAHULUAN

Ilmu Allah Subhanallahu wa Ta’ala tidak akan pernah habis untuk kita kita perdalam dan pahami.  Tidak mampu bagi manusia biasa untuk memahami ilmu Allah Subhanallahu wa Ta’ala  tanpa adanya sang guru yang mulia, salah satunya nabi Muhammad Shallawahu’Alahi wa Salam. Dengan diutusnya nabi Muhammad Shallawahu’Alahi wa Salam kepada umat manusia ini sebagai penjelas, pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan agar tidak ada kesalahpahaman dalam memahami ilmu Allah Subhanallahu wa Ta’ala.
Salah satu ilmu-Nya yaitu ilmu fiqih, ilmu fiqih  merupakan salah satu ilmu yang sangat penting kedudukannya dalam kehidupan umat islam. Secara estensial, fiqih sudah ada sejak awal mula munculnya islam, tetapi secara disiplin  ilmu,  fiqih belum ada saat itu. Karna semua permasalahan agama saat itu langsung ditanyakan kepada nabi Muhammad Shallawahu’Alahi wa Salam, sehingga terjawab setiap permasalahan yang terjadi. Lalu, kepada siapa kaum muslimin merujuk segala permasalahan?
Seiring berjalannya waktu permasalan fiqih semakin berkembang, sehingga timbullah permasalahan baru yang dibutuhkannya ijtihad. Adanya ijtihad agar manusia tidak menyeleweng dari hukum islam yang telah ditentukan. Para mujtahid bisa menggambil sumber ijtihad dari al Qur’an, hadist, ijma’ dan qiyas.








BAB II
PEMBAHASAN

Pengertian Fiqih
Fiqih secara bahasa:
Menurut ahli ushul, fiqih adalah pemahaman (الفهم).
Fiqih secara istilah:
Menurut ahli ushul, fiqih adalah ilmu yang membahas tentang hukum-hukum syar’i yang berkaitan dengan amaliyah yang diambil dengan dalil-dalil secara terperinci.[1]
Sejarah Perkembangan Fiqih
Hakekatnya permasalahan fiqih sudah tumbuh dan berkembang sejak di zaman nabi Muhammad Shallawallu’Alaihi wa Salam dan terjawab pula permasalahan yang dialami oleh para sahabat dan orang-orang yang hidup semasanya. Nabi Muhammad Shallawahu’Alahi Wasalam dalam berijtihad atau berhukum jika benar atau salah selalu dikuatkan oleh wahyu yang disampaikan kepada beliau, Al-Qur’anul Karim juga membenarkan atas hal ini[2], Allah berfirman :[3]
....وما اتكم الرسول فخدوه وما نهكم عنه فا نتهوا...
“ ...Apa yanng diberikan Rosul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarang bagimu maka tinggalkanlah...”
Ayat ini menjelaskan bahwa Sesuatu yang beliau perintah maka harus  dikerjakan, dan apa yang dilarangnya maka tinggalkanlah. Karena beliau hanyalah kepada kebaikan dan melarang keburukan.[4]
 Ketika nabi Muhammad Shallawahu’Alahi wa Salam wafat tidak ada lagi sumber yang dijadikan tempat untuk menjawab permasalahan  mereka. Sehingga masa setelah wafatnya nabi Muhammad Shallawahu’Alahi wa Salam muncullah permasalahan-permasalahan yang baru dan dimulai adanya perkembangan fiqih pada masa itu. Maka terjadi ijtihad pada masa sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in dan terjadi hingga sekarang.
Dalam berijtihad para sahabat berbeda-beda pendapat sesuai pemahaman mereka dalam memahami nash atau lafadz yang disampaikan oleh Rosululloh Shallawahu’Alahi Wasalam. Perbedaan tersebut menjadikan para sahabat menetapkan cara berijtihad yang benar bagi orang-orang setelah mereka. Selain itu maksud perbedaannya adalah mencapai ridho Allah Subhanallahu wa Ta’ala dan lebih mengutamakan pada kebenaran, tidak ada unsur untuk menghalangi perjalanan Islam.
Ijtihad para sahabat memiliki peran penting dalam memperkaya ilmu fiqih dan perbedaan arah pandang mereka dalam memahami nash, sehingga memperluas pemahaman orang-orang setelah mereka.
Keadaan Bangsa Arab Sebelum Islam
Pada abad 6 Masehi, dunia dikuasai oleh dua kekuatan yang terletak di Jazirah Arab. Salah satunya Persia yang menguasai daerah timur laut dan Romawi yang menguasai daerah utara dan barat. Kedua negara ini mempunyai beradaban masing-masing dalam pegetahuan dan peraturan.
Kebanyakan dari bangsa arab adalah pengembara yang tinggal di padang pasir, masyarakat mereka terikat dengan kesukuan, kebudayaan yang berasal dari nenek moyang mereka. Pemimpin mereka  adalah kabilah-kabilah yang merelai permasalahan mereka. Pembesar kabilah memiliki wewenang untuk memerintah dan melarang anggota kabilah.
Sebagian bangsa arab ada yang tinggal di Yasrib, Makkah dan Thaif. Mereka bercocok tanam dan mereka mengenal produksi barang. Disinilah mereka mulai mengenal muamalah dan hubungan perdagangan. Pasar mereka yang cukup besar menjadikan majunya peradaban mereka, karna banyak kabilah yang datang ke pasar-pasar mereka.[5]
Sebelum islam datang, bangsa arab telah menganut berbagai macam agama, adat istiadat, akhlak dan berbagai macam aspek kehidupan yang lain. Ketika Islam datang, agama ini membawa pembaharuan dalam segala aspek kehidupan, tentunya ada banyak perselisihan yang terjadi pada masa itu.
Seiring berjalannya waktu dengan berbagai rintangan yang dialami nabi Muhammad Shallawahu’Alahi Wasalam, akhirnya berbuah manis. Sedikit demi sedikit jumlah kaum muslimin bertambah banyak dan menyebar diberbagai penjuru dunia hingga saat ini. Begitu juga dengan tersebarnya syari’at Islam dipenjuru dunia.
Fiqih Dan Ijtihad Pada Masa Rosululloh Shallawohu’Alaihi wa Salam
Pada masa ini kekusaan pemberian hukum berada di tangan Rosululloh Shallawahu’Alahi wa Salam. Semua permasalahan yang terjadi dapat ditangani dan terjawab oleh Rosululloh Shallawahu’Alahi wa Salam. Hukum-hukum yang telah ditetapkan wajib diikuti oleh kaum muslimin. Rosululloh Shallawohu’Alahi wa Salam dalam menentukan hukum tentunya bersumber pada Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Pada masa ini  terjadi kepututasan hukum yang bersifat ijtihad dari kalangan sahabat, lalu ijtihad mereka dirujuk kepada nabi Muhammad Shallawahu’Alaihi wa Salam untuk diperiksa kesohihannya.
Fiqih Dan Ijtihad Pada Masa Shahabat
Sahabat adalah orang-orang yang paling dekat dengan Rosululloh Shallawahu’Alaihi wa Salam. Kebanyakan dari mereka dalam kehidupan sehari-hari berinteraksi langung dengan beliau. Selain itu para sahabat berguru langsung dengan sang penyampai risalah (Al-Qur’an), jadi tidak diragukan lagi akan kecerdasan dan kebenaran yang disampaikan para sahabat.
Setelah wafatnya Rosululloh Shallawahu’Alaihi wa Salam, terdapat juga ijtihad dikalangan para sahabat. Tentu saja ijtihad mereka bersumber pada Al-Qur’an maupun As Sunnah, akan tetapi jika para sahabat tidak mendapatkan dikeduanya, maka mereka berijtihad menggunakan logika diantara mereka sebagai penerapan sunnah.
Fiqih Dan Ijtihad Pada Masa Tabi’in
Para sahabat memiliki banyak murid yang memperoleh pendidikan dari mereka, diantarannya para tabi’in. Kemudian para tabi’in menggumpulkan kekayaan yang ditinggalkan oleh para sahabat, yakni periwayatan dan ijtihad dalam fiqih. Fuqoha’ sab’ah dan para tabi’in yang lainnya berijtihad terkait dengan perkara yang tidak ada ijtihadnya dari para sahabat dan ijtihad mereka itu tidak keluar dari manhaj para sahabat.
Sebagian para tabi’in ada yang memberikan fatwa dengan pendapatnnya apabila  tidak menemukan nash maupun fatwa sahabat. Sebagian yang lain dari para tabi’in juga ada yang hanya sedikit saja dalam pemberian fatwa, karena dia ingin menjauhkan dirinya dari fatwa-fatwa.
Kaum muslimin pada saat itu terbagi menjadi beberapa kelompok. Sehingga munculnya periwayatan-periwatan palsu yang disandarkan dari Rosululloh Shallawahu’Alaihi wa Salam, banyaknya fitnah, munculnya kelompok Syi’ah, Khawarij dan yang lainnya. Sehingga bermunculan pendapat-pendapat yang berdasarkan logika, kemudian Umar bin Abdul Aziz membukukan sunnah sebagai sarana untuk menjaga dari serangan-serangan jahat.[6]
Berdasarkan permasalahan ini, ilmu fiqih dibagi menjadi dua bagian:
1)      Fase Madinah / Madrosah Ahli Hadist
Madrosah ahli hadist muncul di kota Madinah, negeri Hijaz. Kota ini dimuliakan oleh Allah Subhanallahu wa Ta’ala karna penduduk Madinah menerima ajaran yang dibawa oleh Rosululloh dengan keimanan mereka. Menjadikan mereka mengetahui ajaran islam secara detail dan mengetahui sunnah-sunnah Rosululloh Shallawahu’Alaihi wa Salam.
Pada masa pemerintahan Umar bin Khattab, beliau tidak mengizinkan para sahabat untuk keluar dari Madinah agar orang-orang setelah mereka yakni tabi’in dapat menggambil ilmu dari mereka dan agar tumbuh himmatul ‘aliyah bagi penuntut ilmu, sehingga bagi penuntut ilmu berusaha untuk mendatangi kota Madinah. Sedangkan di masa Ustman baru diperbolehkan untuk keluar dari kota Madinah, bertujuan agar ilmu mereka bisa tersebar ke beberpa negara.
Asal mula lahirnya madrasah ini pada masa tabi’in karna para pembesar sahabat lebih memilih tinggal di Madinah, diantarannya Zaid bin Stabit, Abdulloh bin Umar bin Khattab, ‘Aisyah binti Abu Bakar. Mereka lebih mengedepankan sunnah daripada ro’yu (akal). Para pembesar sahabat ini juga memiliki murid-murid yang terkenal, diantaranya Sa’id bin Al Musayyab, Urwah bin Az Zubair, Abu Salamah bin Abdurrohman bin ‘Auf, Ibnu Syihab Az-Zuhri, Nafi’ ( Budak Ibnu Umar ), Salim bin Abdulloh bin Umar, Al-Qosim bin Muhammad bin Abu Bakar Ash-Shidiq, Khorijah bin zaid bin Stabit, Abu Bakar bin Abdurrohman bin Haris bin Hisyam, Sulaiman bin Yasar dan Abdulloh bin Abdulloh bin ‘Utaibah bin Mas’ud dan selainnya.[7]
Penulis paparkan beberapa biografi dari ahlu Madinah:
*      Sa’id bin Al Musayyab (13-93 H / 674-713 M )[8]
Nama beliau adalah Sa’id bin Al Musayyab bin Hazan bin Abi Wahab Al Makhzuumi AL Qurasyi. Beliau merupakan seorang tabi’in besar yang hidup sezaman dengan sahabat nabi, Umar bin Khattab, Ustman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abu Hurairah, Aisyah dan Ummu Salamah. Termasuk ulama ahli hadist dan fiqih yang memiliki sifat zuhud dan wara’. Beliau banyak meriwatkan hadist dari Abu Hurairah, sehingga Abu Hurairah menikahkan Sa’id dengan putrinnya
*      Urwah bin Az Zubair (22-93 H / 643- 712 M)[9]
Nama beliau adalah ‘Urwah bin Az Zubair bin Al ‘Awam Al Qurasyi Al Aswadi. Beliau termasuk katagori tabi’in yang masuk dari fuqoha’ sab’ah Madinah yang terkenal dengan keilmuan, kezuhudan dan ketakwaannya. Beliau meriwayatkan hadist dari Ali bin Abi Thalib, Aisyah, Jabir, Hasan, Husein, dan lainnya.[10]
Beliau juga termasuk sahabat yang hafidz dan faqih. Ia menghafal hadist dari ayahnya (Zubair bin Awam ). Selain itu beliau juga ahli ibadah, hingga akhir wafatnya beliau meninggal dalam keadaan berpuasa di desa Far’, dekat kota Madinah, tahun 94 H.[11]
*      Al Qosim bin Muhammad bin Abu Bakar Ash Shidiq (37-107 H / 657-728 M)[12]
Al Qosim bin Muhammad bin Abu Bakar Ash Shidiq merupakan salah satu dari fuqoha’ sab’ah Madinah, yang paling mulia ilmunya, paling tajam kecerdasannya dan paling bagus sifat waranya pada zamannya.
Beliau menimba ilmu dari bibinya Aisyah dan menghadiri beberapa majlis Abu Hurairah, Abdulloh bin Abas, Abdulloh bin Zubair, Abdulloh bin Ja’far dan sebagainya.[13]
Sebab Adanya Madrosah Ahli Hadist
*      Banyaknya para sahabat yang hafal hadist nabi di Madinah dan mereka memilih menetap di Madinah.
*      Sedikitnya permasalahan di Madinah.
*      Dekatnya para tabi’in dengan gurunya dari kalangan sahabat yang berada di Madinah, lalu menjadikan mereka mengikuti metode para sahabat yang lebih mengedepankan sunnah daripada pendapat sendiri.
Prinsip Madrosah Ahli Hadist
*      Para fuqoha’ lebih mendahulukan as-sunnah daripada ar-ro’yu dan tidak menggunakan  ro’yu kecuali tidak adanya nash dalam qu’an dan hadist.
*      Fuqoha’ sangat berkomitmen dalam menjalankan nash-nash yang dhohir dan tidak melihat illat sebuah hukum atau hikmah persyariatannya.
*      Para fuqoha’ tidak menggunakan ro’yu dalam berpendapat, kecuali jika terdapat permasalahan kehidupan yang mendesak dan dibutuhkan jawaban segera.[14]
Keistimewaan Ahli Hadist
*      Bencinya mereka dengan pertanyaan-pertanyaan yang banyak atau belum terjadi.
*      Berpedoman pada hadist dan astar sahabat
*      Dalam menetapkan hukum menggambil atas perbuatan yang telah terjadi bukan atas ketetapan yang belum terjadi.
Pengaruh Fuqoha’ Madinah Dalam FiqihMadrosah Ahli Hadist
*      Terjaga dan terkumpulnya sunnah nabi.
*      Mengumpulkan pendapat para sahabat dan tabi’in, fatwa dan ketetapan mereka. Menjaganya dengan cara membukukan dan mempelajarinya.
*      Ahli hadist memiliki pengaruh besar ketika mampu mengarahkan pandangan kaum muslimin terhadap sunnah dan atsar yang diriwatkan oleh sahabat.
*      Telah mengkokohkan sunnah manhaj ilmiyah bagi ilmu fiqih dan ilmu-ilmu yang lain.

2)                  Ahli Makkah / Madrosah Ahli Ro’yu
Yang dimaksud ahli ro’yi adalah aliran ijtihad yang mempunyai pandangan bahwa islam merupakan ketentuan yang mengacu kepada kemaslahatan kehidupan manusia. Ro’yu disini bukan memahami secara akal tanpa aturan, menyelisihi nash dan gegabah dalam mengambil hukum, akan tetapi dalam menggambil hukum terpengaruh cara berfikir ulama Iraq yang mengikuti cara berfikir Umar bin Khattab dan Abdulloh bin Mas’ud. Mereka cenderung dalam memberikan hukum menggunakan akal.
Munculnya kelompok ini banyak terjadi di Iraq, khususnya Kuffah dan Basroh. Munculnya aliran ini dipengaruhi oleh tiga faktor;
*      Terlalu condong kepada ulama mereka yang pertama yaitu Abdulloh bin Mas’ud. Sedangkan Abdulloh bin Mas’ud dalam metode ijtihad terpengaruhi oleh metode Umar bin Khattab yang menggunakan ro’yu.
*       Sedikit menerima hadist nabi
*      Sedikitnya menggunakan hadist.
 Sehingga dari dua poin ini mendorong Mereka untuk menggunakan ro’yu.[15]
Sahabat yang pertama kali menggunakan ro’yu dalam memutuskan suatu perkara adalah; Abdulloh bin Mas’ud dan Ali bin Abi thalib. Sedangkan fuqoha’ yang menyebarkan madrosah ahli ro’yi adalah; Alqomah bin Qois bin Abdulloh, Al Aswad An Nakho’i, Masruq bin Al Ajda’ bin Malik dan Asy Sya’bi.
Penulis paparkan beberapa biografi fuqoha Makkah:
*      Alqomah An Nakho’i (wafat 62 H / 681 M)[16]
Nama beliau adalah ‘Alqomah bin Qoisy bin Abdulloh bin Malik bin AlQomah An Nakho’i Al Kufi. Beliau lahir pada saat Rosululloh Shallawahu’Alaihi wa Salam masih hidup. Meriwayatkan hadist dari para sahabat,
Beliau belajar al Qur’an dari Ibnu Mas’ud, mendengar dari Ali bin Abi Talib, Umar bin Khattab, Abu Darda dan Aisyah. Sehingga Alqomah memiliki bacaan yang bagus ketika membaca al Qur’an.

*      Masruq bin Al Ajda (wafat 62 / 63 H)[17]
Beliau termasuk kalangan tabi’in. Beliau berguru kepada ulama  dari kalangan sahabat Abdulloh bin Mas’ud, Ali bin Abi Thalib, Aisyah binti Abu Bakar. Beliau terkenal dengan kezuhudannya, kewara’an dan keserhanaan. Selain itu beliau juga terkenal ahli ibadah dan memiliki rasa takut yang tinggi kepada Allah Subhanallahu wa Ta’ala.
Abu Bakar Al Khatib berkata: “ Ada yang mengatakan, sewaktu kecil beliau pernah diculik dan ditemukan kembali, kemudian beliau diberi nama Masruq (yang dicuri), kemudian ayahnya Al Ajda’ masuk Islam.”[18]
Dalam menuntut ilmu beliau pergi ke syam dan Kuffah. Masruq berguru langsung dengan para sahabat.
*      Asy Sa’bi (19- 103 H / 640-721 M)[19]
Nama lengkapnya Amir bin Syarahil bin ‘Abd bin Dzi Kibar Asy- Sya’bi Al Humairi, biasa dipanggil Abu Amr. Namanya dinisbatkan kepada Sya’ab, nama sebuah kabilah di Hamadan.
Beliau sosok tabi’in yang terkenal kuat ingatannya dan termasuk salah satu seorang pakar Al Qur’an dan salah satu seorang perowi hadist yang tsiqoh.
Beliau meriwayatkan hadist dari Sa’ad bin Abi Waqqash, Sa’id bin Zaid, Ibnu Abbas, Alqomah dan lainnya[20]
Sebab Munculnya Madrosah Ahli Ro’yi
*    Abdulloh bin Mas’ud lama menetap di Kuffah, sehingga banyaknya orang yang berguru kepada beliau.
*    Perbedaan geografis antara kota Irak dan Hijaz karena faktor peradaban yang ada di Irak dan keserhanaan yang ada di kota Madinah.
*    Sedikitnya hadist yang sampai kepada mereka.
Prinsip Madrosah Ahli Ro’yi
*    Selektif dalam menerima hadist ahad.
*    Menggunakan ro’yu tidak hanya pada perkara yang sudah terjadi, akan tetapi digunakan untuk perkara yang belum terjadi atau andaian.
Pengaruh Madrasah Ahli Ro’yi
*    Para ulama ahli ro’yi mengumpul hadist yang mereka dengar daripara sahabat.
*    Para ulama ahli ro’yi berhasil mengeluarkan illa-illat hukum dan hikmahnya, termasuk kaidah umum syari’at, baik dari Al-Qur’an maupun hadist.
*    Para ulama ahli ro’yi berhasil menghalangi para perowi hadist palsu untuk meriwayatkan hadist palsu,  karena adanya syarat yang ketat dalam meriwayatkan hadist.[21]
Keistimewaan Madrosah Ahli Ro’yi
*    Banyaknya cabang hukum untuk menjaawab peristiwa-peristiwa baru.
*    Sedikitnya hadist, karna pada waktu itu banyak hadist-hadist palsu.


BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
 Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kepada hamba-Nya suatu kecerdasan yang dimiliki oleh setiap individu. Begitu juga dengan diutusnya penutup pembawa risalah-Nya, nabi Muhammad Shallawahu’Alaihi wa Salam yang telah memberikan pengetahuan, kabar gembira dan peringatan bagi umatnya.
Tidak diragukan atas kebenaran yang dibawa oleh Rasululloh Shallawahu’Alahi wa Salam, karna beliau mendapatkan ilmu itu dari wahyu Allah.
Salah satu ilmu itu adalah ilmu fiqih. Dalam setiap zaman, fiqih selalu ada perkembangan bahkan hingga sekarang ini, oleh karena itu pada setiap zaman pasti ada seorang fuqoha yang berijtihad.
Dalam berhukum atau menyelesakan permasahan seorang fuqoha berbeda metode, ada yang menggunakan ro’yu dan ada yang menggunakan hadist. Tidak ada permasalahan dalam hai ini.
 Fuqoha Madinah condong untuk menggunakan hadist dari pada ro’yu , salah sebabnya karna kebanyakan dari ahli Madinah banyak yang hafal hadist, sedangkan fuqoha’ Makkah lebih condong menggunakan ro’yu karna sedikitnya menerima hadist dari kalangan mereka.
Salah satu  dari fuqoha Madinah adalah Sa’id bin Al Musayyab, sedangkan dari fuqoha Makkah adalah ‘Alqomah An Nakho’i.
Penulis simpulkan bahwa pengaruh fuqoha’ Madinah terhadap perkembangan fiqih adalah menjaga kesucian hadist nabi sebagai sumber hukum atau untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi. Sedangkan pengaruhnya bagi fuqoha’ Makkah adalah memiliki jasa yang besar, karna terkadang permasalahan memamg membutuhkan logika. Tidak semuanya tertuju pada nash-nash yang ada, namun juga membutuhkan contoh-contoh yang perlu dengan logika. Begitu juga ketika menafsirkan nash-nash yang ada. Wallahu A’lam bi Showab.
Penutup
Demikian makalah ini penulis buat. Rasa syukur  penulis haturkan kepada Allah Subhanallahu wa Ta’ala atas selesainya makalah ini dan kemudahan yang diberikan-Nya, walaupun dalam menulis makalah ini penulis juga mendapatkan beberapa rintangan.
Sekali lagi, penulis sangat menyadari banyaknya kesalahan dalam membuat makalah ini, oleh karna itu penulis berharap kritik dan saran dari para pembaca.
Tidak ada tulisan yang sempurna karena manusia tempatnya salah, sedangkan jika ada kebenaran dalam makalah ini semata-mata hanya karna Allah Subhanllahu wa Ta’ala.

DAFTAR PUSTAKA
*      Al Qur’an
*      Dr. ‘Abdulloh bin Muhammad Alu syaikh, Tafsir Ibnu Katsir, pent. Pustaka Imam Asy Syafi’i, cetakan ke 1, jilid 09, hal 446.
*      Dr. Nashir bin Aqil bin Ath Thorafi, Tarikh Fiqih Islam, pent. Maktabah At- Taubah, cetakan ke 1.
*      Syaikh Abdul Mun’im Al- Hasyimi, Kisah Para Thabi’in, pent. Umul Qura, cetakan ke 1.
*      Syaikh Muhammad Sa’id Mursi, Tokoh-Tokoh Besar Islam Sepanjang Sejarah, pent. Pustaka Al Kautsar, cetakan ke 1.
* https://biografi-tokoh-ternama.blogspot.co.id/2014/09/al-qosim-bin-muhammad-bin-abu-bakar-ash-shidiq.html, diambil pada jum’at,   17 November 2017, pukul 07.54.
*      hhps://mba4yunanakeabiumi.blogspot.co.id.sejarah-perkembangan-fiqih.html, diambil pada hari minggu, 13 November 2017, pukul 06.05.
*      https://dionhi78.blogspot.co.id/2014/12/pengaruh-ahlu-hadist-dan-ahlu-ro’yu.html, diambil pada jum’at, 17 November 2017, pukul 09.63.
*      httpl://qnet8899.blogspot.co.id/2017/01/makalah-ahlu-hadist,html, diambil pada senin, 20 November 2017, pukul 08.30.












                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          






[1] dr. Nashir bin ‘Aqil Ath Thorifi Tarikh Fiqih Islami, cetakan ke 2, hal 23
[2] Syaikh Abdul Mun’im Al Hasyimi, Kisah Para Tabi’in, cetakan 1, hal  30-31
[3] Q.S Al Hasyr : 07
[4] Dr. ‘Abdulloh bin Muhammad Alu Syakh, Tafsir Ibnu Katsir, jilid 09, hal 448
[5] https://mba4yunanakeabiumi,blogspot.co.id/2015/05/sejarah-perkembangan-fiqih-islam.httl
[6]Syaikh Abdul Mun’im Al Hasyimi, Kisah Para Thabi’in, cetakan ke 2, hal 39-40
[7] dr.Nashir bin ‘aqil AthTharafi,Tarikh Fiqih Islam, cetakan ke 2, hal 79-80
[8] Idem, hal 80
[9] Idem, hal 81
[10] , Syaikh Muhammad Sa’id Mursi, Tokoh-Tokoh Besar Islam Sepanjang Sejarah, cetakan ke 1,hal 161
[11] Idem, hal 162
[12] Idem, hal 81
[13] https://biografi-tokoh-ternama.blogspot.co.id/2014/09/al-qosim-bin-muhammad-bin-abu-bakar-ash-shidiq.html
[14] https://dionhi78.blogspot.co.id/2014/12/pengaruh-ahlu-hadist-dan-ahlu-ro’yu.html
[15] Httpl://qnet8899.blogspot.co.id/2017/01/makalah-ahlu-hadist,html
[16] Dr. Nashir ‘Aqil Ath Tharafi Tarikh Fiqih Islam, cetakan ke 2, hal 84
[17] Idem, hal 86
[18] Idem, hal 86
[19] Idem, hal 87

[20] Syaikh Muhammad Sa’id Mursi ,Tokoh-Tokoh Besar Islam Sepamjang Sejarah, cetakan ke 1, hal 192-193

Tidak ada komentar:

Kawan..., silahkan tinggalkan pesan...

Nama

Email *

Pesan *