Sabtu, 26 Mei 2018

Tafsir Qur’an Surat Maryam Ayat 28



Seperti biasa ba’da asar, sebelum belajar sore aku sempatkan tuk membaca beberapa lembar Al Qur’an. Ketika itu aku membaca ayat    يأُخْتَ هرُونَ مَا كَان أَبُوْكِ امْرَأَ سَوْءٍ وَمَا كَانَتْ أُمُّكِ بَغِيًّا (28)  “Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah penjahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina.”(Q.S. Maryam:28)
Ku heran apa sich maksud dari يأُخْتَ هرُونَ, apakah Maryam itu saudaranya Nabi Harun ataukah yang dimaksud dalam Al Qur’an itu nama Harun yang lain. Akhirnya ku tanyakan dengan teman yang ada di sisiku, namun ia pun belum mengetahuinya dan ia pun masih binggung.
Sejak itu ku bertekad untuk mencari tafsir dari ayat tersebut.
Setelah ujian semester, ku luangkan waktu untuk membuka buku tafsir...., Alhamdulillah aku menemukannya.
 Dan kini ku ingin berbagi ilmu yang ku dapat, semoga bisa membantu dan menjawab keraguan antum.
Sebagaiman tafsiran yang terdapat dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir.
يأُخْتَ هرُونَ “ Hai saudara perempuan Harun,” yaitu, hai perempuan yang menyerupai Harun dalam hal beribadah, مَا كَان أَبُوْكِ امْرَأَ سَوْءٍ وَمَا كَانَتْ أُمُّكِ بَغِيًّا Ayahmu bukanlah seorang penjahat dan ibumu bukanlah seorang pezina,” yaitu engkau lahir dari keluarga yang baik dan suci yang dikenal kesholihan, ibadah dan zuhudnya.
Ali bin Tholib dan As Suddi berkata: “ Dikatakan kepadanya يأُخْتَ هرُونَ, yaitu saudara Musa.” Karena Maryam berasal dari keturunan Harun.
Ada yang berpendapat, bahwa Maryam digolongkan kepada laki-laki sholeh di kalangan mereka yang bernama Harun. Beliau diukur dengan laki-laki itu dari segi kezuhudan dan ibadahnya.
Ibnu Jarir menceritakan dari sebagian ulama bahwa mereka menyerupakan Maryam dengan laki-laki yang suka berbuat dosa yang bernama Harun. Orang-orang dahulu diberi nama dengan nama-nama para Nabi dan orang-orang sholeh dikalangan mereka.
 Imam Ahmad berkata bahwa Al Mughiroh bin Syu’bah berkata:
“ Rasululloh shalallohu’alaihi wa salam mengutusku ke Najran, lalu mereka berkata: “Apa pendapatmu tentang apa yang kalian baca: يأُخْتَ هرُونَ, padahal Nabi Musa sebelum Nabi Isa sekian tahun jaraknya?” Aku pun kembali dan menceritakan hal tersebut kepada Rasululloh shalallohu’alaihi wa salam. Lalu beliau bersabda :
أَلاَ أَخْبَرْتَهُمْ أَنَّهُمْ كَنُوا يُسَمُّونَ بِالأَنْبِياء والصَّالِحِيْنَ قَبْلَهُمْ
“Mengapa tidak engkau beritahukan kepada mereka, bahwa dahulu mereka diberi nama dengan nama para Nabi dan orang-orang yang sholeh sebelum mereka.” (HR. Muslim, At Tirmidzi dan An Nasa’i. At Tirmidzi berkata: “Hasan shahih gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari hadist Ibnu Idris.”)[1]





[1] Dr. ‘Abdulloh bin Muhammad Alu Syaikh, Tafsir Ibnu Katsir,pent. Pustaka Imam Syafi’i, jilid 05, hal. 513.

Tidak ada komentar:

Kawan..., silahkan tinggalkan pesan...

Nama

Email *

Pesan *