Minggu, 20 Mei 2018

Biografi Ibnu Taimiyah


Biografi Ibnu Taimiyah
Makalah Ini di buat Guna Memenuhi Tugas Akademik Madkhol Lid Dirosatil Fiqh
Diampu Oleh:
Ustadz Ja’far



Disusun Oleh:
Hurin’In Himmatul Husnayain
NIM: 017-012-0266

MA’HAD ALY LIDDIROSAH AL ISLAMIYAH
HIDAYATURRAHMAN
PILANG MASARAN SRAGEN
2018



 PENDAHULUAN

Segala puji bagi Allah Robb Semesta Alam.
Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada putra suku Quraisy, Nabi Muhammad shalawallu’alaihi wa salam. Beliau dengan mengemban amanah dari Allah untuk menyebarkan agama yang benar yakni agama Islam. Hingga tersebar ajaran yang beliau bawa ke penjuru dunia. Bukan hal yang mudah untuk berda’wah dan menegakkan kebenaran, berbagai rintangan pasti didapat. Kesabaran dan keyakinan yang membuat seseorang mampu bertahan walau badai menghantam.
Dari awal tersebarnya syari’at islam hingga sekarang pasti tidak akan luput dari suatu rintangan, baik berupa penolakan, cacian, siksaan dan lain sebaginya. Baik di zaman Nabi dan para sahabatnya, thabi’in, thabiut thabi’in hingga kita sebagai da’i dan da’iyah pasti merasakan.
Namun bagi orang yang ikhlas karna Allah, semuanya tidak membuatnya getir dan goyah.
Pengalaman ini juga dirasakan salah satu ulama kita “Ibnu Taimiyah” ulama yang muncul pada masa ashru hadhir, beliau juga merasakan apa yang dirasakan oleh ulama sebelum beliau. Namun beliau mampu bersabar dan berbuahkan hasil yang bisa dinikmati oleh semua orang.
Beliau merupakan seorang ulama yang sangat bersungguh dalam menuntut ilmu, hingga ketika harus menyampaikan ilmunya atau menyampaikan kebenaran di depan masyarakat, pemerintah, pemimpin dan lain sebagainya, banyak terjadi penolakan dari mereka, namun perkara ini tidak membuat beliau merasa takut. Walaupun beliau harus di penjara hingga puluhan tahun, diasingkan dan berbagai hal yang membuatnya tidak nyaman.
Sekalipun dalam keadaan di dalam penjara masih banyak orang yang meminta fatwa darinya, ilmu beliau masih mengalir dan dibutuhkan masyarakat.
Hingga akhirnya ia menjemput ajalnya di dalam penjara.
Tidak diragukan lagi kecerdasan beliau di dalam memahami berbagai ilmu.
Semoga kita dapat menjadi sosok yang terus kehausan dengan ilmu yang kita miliki, kita bisa menjadi sosok yang miskin akan ilmu yang kita dapatkan.
Teruslah melangkah ke depan dan berusaha dengan sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu.
Sekian muqodimah dari penulis, semoga pembaca bisa memahami, dan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Amiin...


                                                                             Penulis
                                                                                                    Hurin In Himmatul Husnayain

             Pembahasan

A.    Nasab Ibnu Taimiyah
     Penulis paparkan dua rujukan mengenai nasab Ibnu Taimiyah.
     Nama beliau adalah Taqiyuddin Abu Al Abbas Ahmad bin Syihabuddin Abi Al Muhasin Abdul Halim bin Majduddin Abi Barkaat Abdussalam bin Abi Muhammad Abdillah bin Abi Qosim Al Khudhr bin Ali bin Abdillah.[1]
Nama beliau Ahmad bin Abdul Halim bin Abdusalam bin Abdullah bin Abi Qosim bin Muhammad Ibnu Taimiyah, Taqiyudin Abu Al Abas Al Munir. Dilahirkan pada hari senin, 10 Robi’ul Awwal 661 H.[2]
Beliau merupakan keturunan bangsa Arab asli, yang berasal dari Bani Namiir, dan beliau dinasabkan ke daerah Haraan, tempat kelahirannya.
Pemberian nama Taimiyah menurut Ibnu Al Mutawaffi dalam kitab Tarikh Irbil, karna pada saat ibu Taimiyah hamil ayahnya melakukan perjalanan. Dan ketika sampai di Taima’, ayahnya melihat perempuan hamil yang keluar dari persembunyiannya. Setelah pulang ke desanya, Haraan ia mendapati istrinya telah melahirkan. Setelah bayinya diberikan kepadanya, ia berkata, “Wahai Taimiyah, wahai Taimiyah!” Maksudnya, istrinya menyerupai perempuan yang dilihat di Taima’. Oleh karna itu bayi tersebut diberi nama Taimiyah.
 Sedangkan menurut Ibnu Nashiruddin Ad Dimasyqi dalam kitab At Tibyan beliau berkata,           “Sesungguhnya ibu Muhammad bin Al Khadr (kakeknya) adalah seorang peceramah, namanya Taimiyah. Dari sini nama Ibnu Taimiyah dinisbatkan.”[3]

B.     Kepribadian Ibnu Taimiyah
Asy Syaukani mengatakan, “Adz Dzahabi berkata,”Ibnu Taimiyah adalah sosok yang berkulit putih, rambut dan jenggot hitam, dan sedikit uban. Rambutnya memanjang sampai ke daun telinganya, sementara kedua matanya seolah lisan yang berbicara, panjang pundaknya, keras suaranya, fasih bicaranya, cepat bacaanya, tinggi emosinya, namun emosi yang tinggi dikalahkan oleh sifat belas kasihannya.”[4]
Beliau orang yang tidak ada bandingannya, dermawan, mulia, beliau lebih mementingkan kebutuhan orang lain daripada dirinya, baik dalam makanan, minuman, pakaian dan selainnya. Beliau orang yang sering beribadah dan membaca al Qur’an, wara’, zuhud, sabar, jujur, amanah, sabar, pemaaf, pemberani, cerdas, selalu beramar ma’ruf nahi mungkar, rendah hati dalam penampilan, pakaian dan pergaulan dengan orang lain, disegani oleh setiap kalangan, dan sifat terpuji lainnya.
Malam-malamnya digunakan untuk beribadah kepada Allah dan membaca Al Qur’an dengan tawadhu’ dan khusyu’.
Setelah sholat subuh, tidak ada yang mengajak beliau berbicara kecuali hal yang penting, beliau gunakan waktunya untuk berdzikir kepada Allah. Hal ini beliau lakukan sampai matahari terbit hingga hilangnya larangan mengerjakan sholat setelah subuh.
Beliau memandang hina dunia ini, kehidupan yang fana ini, karna beliau serahkan urusannya kepada Allah, mempersiapkan diri untuk berbekal di hari akhir kelak, mengosongkan hati dari syahwat, hati dan jiwanya dipenuhi kecintaan kepada Allah dan Rosul-Nya.

C.    Perjalanan Menuntut Ilmu
Ibnu Taimiyah tumbuh dalam keluarga yang diberkahi dan penuh rahmat. Kakeknya, Majdudin Abu Al Barakat adalah guru besar madzhab Hambali dan ayahnya, Syihabudin Abdul Halim juga termasuk ulama besar pada masa itu.
Sejak kecil beliau sudah belajar tentang ilmu agama, seperti hadist, fiqih, aqidah dan tafsir, sudah hafal al Qur’an. Selain itu beliau juga orang yang cerdas dan kuat hafalannya, sehingga untuk menguasai ilmu-ilmu tersebut tidak membutuhkan waktu yang lama.
Ibnu Taimiyah menuntut ilmu di negerinya, Haraan hingga berusia tujuh tahun, dan dilanjutkan perjalanan menuntut ilmunya ke Damasyqus. Salah satu penyebabnya adalah negaranya berada dibawah kekusaan penjajah At Tatar, mereka membunuh para rakyat, menghancurkan rumah-rumah mereka dan melakukan kekejian yang lain. Pada tahun 667 H beliau dan keluarganya pergi ke Damasqus. Mereka melakukan perjalanan dengan menggunakan gerobak, dan dilakukan pada malam hari tanpa membawa bekal apapun kecuali beberapa kitab yang mereka miliki.
Kemudian di Damasqus ayahnya bertemu dengan para ulama. Pada saat pergi ke Damasqus, Ibnu Taimiyah masih kecil, akan tetapi beliau mampu untuk diarahkan menghafal Al Qur’an dan disibukkan dengan menghafal kitab hadist, fiqih, lughoh, mahir di dalm ilmu nahwu, ushul fiqih, dan tafsir. Hal ini yang membuat Ibnu Taimiyah kecil dikenal kecerdasannya, kemuliaaanya, cepat menghafal dan memahami ilmu dari berbagai penjuru dunia.[5]
Kitab hadist yang pertama kali Ibnu Taimiyah hafal adalah kitab Al Jami’ baina Shohihaini karya Al Hamidii. Hingga beliau mampu memperdalam ilmu-ilmu yang terkandung didalamnya.
Sejak berumur tujuhbelas tahun Ibnu Taimiyah sudah terlihat dengan keahliannya dalam berfatwa dan mengajar, dan pada saat ini juga beliau telah diamanahi oleh gurunya, Syamsuddin Al Maqdisi untuk berfatwa.
Diusianya yang masih muda, duapuluh satu tahun beliau sudah mampu untuk berfatwa dan mengajarkan ilmu. Hal itu beliau lakukan karena mengantikan posisi ayahnya yang telah meninggal dunia, beliau meneruskan perjuangan da’wah ayahnya yang cenderung bermadzha Hambali.
Keilmuan dan keutamaan yang ia miliki terus meningkat sehingga ia menjadi ulama Syaikh Islam dan pemuka ulama yang disanjung.
Diriwatkan oleh Al Bazzar, bahwa dalam perjalanan menuntut ilmu, kemampuan Ibnu Taimiyah telah membuat banyak orang terkesima. Tidak terkecuali seorang Yahudi, orang Yahudi tersebut selalu menghadang beliau setip kali hendak menuju ke tempat belajarnya. Orang Yahudi itu benar-benar mengetahui kecerdasan Ibnu Taimiyah dan mengagumi kecerdasan beliau. Setiap orang Yahudi bertemu Ibnu Taimiyah, orang Yahudi itu menyodorkan sejumlah pertanyaan dan selalu dijawab dengan tepat oleh Ibnu Taimiyah. Hal ini digunakan Ibnu Taimiyah untuk menda’wahinya, sehingga orang Yahudi pun masuk Islam.[6]
Dikisahkan pula bahwa suatu hari, ayahnya, saudaranya dan sejumlah saudaranya mengajak beliau untuk bertamasya dan bersenang-senang. Namun, beliau lari bersembunyi dari mereka agar tidak ikut. Setelah keluarganya kembali pada sore hari, mereka mencelanya karna beliau tidak ikut dalam tamasya tersebebut dan keterasingannya dalam rumah sendirian. Maka, Ibnu Taimiyah mengatakan kepada mereka, “ Kalian tidak mendapatkan tambahan apa-apa, sementara aku dalam waktu kepergian kalian telah menghafal satu jilid ini.” Kitab yang beliu maksud adalah Jannah An Nazhir wa Junnah Al Manazhir.
Segala rintangan yang menghadapinya tidak membuat Ibnu Taimiyah berputus asa dalam menuntut ilmu, baik ketika beliau sakit, dicaci maki orang, difitnah, diasingkan bahkan ketika beliau dipenjara, semuanya sama sekali tidak membuatnya berputus asa, bahkan membuatnya semakin rajin dan bersemangat.

D.    Guru-Gurunya
Ibnu Taimiyah telah belajar dengan sungguh-sungguh dan giat kepada 200 guru, termasuk juga guru beliu adalah ayahnya, Syihabuddin Abdul Halim bin Abdissalam.
Allah telah memberikan kepadanya akal yang sangat genius dan hati yang bersih dan suci.
Akan penulis sebutkan beberapa guru beliau, diantaranya:
1.      Zainuddin Abu Al Abbas Ahmad bin Abduddaim.
2.      Taqiyuddin Abu Abu Muhammad Ismail bin Ibrahim bin Abi Al Yusr At Tanukhi.
3.      Aminuddin Abu Muhammad Al Qosim bin Abi Bakr bin Qosim bin Ghanimah Al Arbali.
4.      Al Ghana’im Al Muslim bin Muhammad bin Makki Ad Dimasyqi.
5.      Syihabuddin Abdul Halim bin Abdisalam bin Taimiyah.
6.      Syamsudin Abu Muhammad Abdurrahim bin Abi Umar Muhammad bin Ahmad bin Ahmad bin Qudamah Al Maqdisi.
7.      Afifuddin Abu  Muhammad Abdurrahim bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Al Alasti Al Hambali.
8.      Fakhruddin Abu Hasan Ali bin Ahmad bin Abdil Wahid bin Ahmad Al Bukhori.
9.      Majduddin Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Utsman bin Al Mudzaffar bin Hibatulloh bin Asakir Ad Dimasyqi.
10.  Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Abdil Qowi bin Badran bin Abdillah Al Mardawi Al Maqdisi.

E.     Murid-Muridnya
Diantaranya:
1.      Syarafuddin Abu Abdillah Muhammad Al Manja bin Utsman bin Asad bin Al Manja At Tanukhi Ad Dimasyqi.
2.      Jamaluddin Abu Al Hajjaj Yusuf bin Az Zakki Abdurahman bin Yusuf bin Ai Al Mizzi.
3.      Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Abdil Hadi.
4.      Syamsuddin Abillah Muhammad bin Ahmad bin Utsman bin Qaimaz bin Abdillah Ad Dimasyqi Adz Dzahabi.
5.      Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Abi Bakr bin Ayyub.
6.      Shalaluddin Abu Said Khalil bin Al Amir Syaifudin Kaikaladi Al Alai Ad Dimasyqi.
7.      Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Muflih bin Muhammad bin Mufarraj Al Maqdisi.
8.      Syarafuddin Abu Al Abbas Ahmad bin Al Hasan bin Abdillah bin Abi Umar bin Muhmmad bin Abi Qudamah.
9.      Imaduddin Abu Al Fida’ ismail bin Umar bin Katsir Al Bashari Al Qurasyi Ad Dimasyqi.
10.  Taqiyuddin Abu Al Ma’ali Muhammad bin Rofi’ bin Hajras bin Muhammad Ash Shamidi As Silmi.

F.     Karya-Karya Ilmiahnya
Beliau memiliki kitab yang sangat banyak, namun penulis hanya menyebutkan beberapa saja, diantarannya:
1.      Majmu’ Al Fatawa
2.      Al Fatawa Al Kubra.
3.      Dar’u Ta’arudh Al Aql wa Al Naql.
4.      Minhaj As Sunnah An Nabawiyyah.
5.      Iqtidha’ Ash Shirat Al Mustaqim Mukholafah Ashaab Al Jahim.
6.      Ash Shorim Al Mashyur ‘ala Syatim Ar Rasul Shalawallohu’Alaihi wa Salam.
7.      Ash Shafadiyah
8.      Al Istiqomah
9.      Al Furqon bain Auliya’ Ar Rahman wa Aulaiya’ Asy Syaithon.
10.  Al Jawab Ash Shohih Liman Baddala Din Al Masih.
11.   As Siyasah As Syar’iyah li Arra’i wa Ar Ra’iyyah.
12.   Al Fatwa Al Hamawiyyah.
13.   At Tuhfah Al ‘Iraqiyyah fi Al A’Mal Al Qolbiyyah
14.   Naqdh Al Manthiq.
15.   Amradh Al Qulub wa Shifa’uha.
16.  Qa’idah Jalilah fi At Tawassul wa Al Washilah.
17.  Al Hasanah wa As Sayyidah.
18.  Muqoddimah fi ‘Ilm At Tafsir.

G.    Wafat Ibnu Taimiyah
Ibnu Taimiyah wafat dalam penjara sebagai tahanan di Al Qal’ah di Damasyqus. Beliau wafat pada malam Senin, 20 Dzulqo’dah 728 H.[7]
Informasi mengenai meninggal beliau disampaikan oleh muadzin masjid benteng Damasyqus di atas menaranya. Para polisi penjaga juga berteriak memberitahukan meninggalnya dari atas gedung-gedung.
Keesokan harinya orang-orang berdatangan untuk menjenguknya dan duduk disamping Ibnu Taimiyah. Mereka menangis dan memuji beliau.
Ibnu Katsir berkata : “ Saya ikut hadir disana bersama syaikh kami Al Hafidz Abu Al Hajjaj Al Mizzia. Aku buku wajah jenazah lalu aku buka dan menciumnya. Di kepalanya terdapat surban yang wangi baunya. Kepalanya telah dipenuhi uban lebih banyak yang aku lihat sebelumnya.”
Lalu saudaranya, Zaenuddin Abdurrahman memberitahukan kepada orang-orang yang hadir disitu bahwa di dan Ibnu Taimiyah telah menghatamkan Al Qur’an sebanyak delapan puluh kali sejak masuk benteng atau penjara.
Dan dua orang shaleh, Abdulloh bin Al Muhib dan Abdulloh Az Zar’i Adh Dhariri, membacakan surat Ar Rahman kepada Ibnu Taimiyah.
Kemudian dilanjutkan dengan memandikan jenazah. Salah satu yang memandikan Ibnu Taimiyah adalah Al Hafidz Al Mizzi.
Mereka berjalan menggiring jenazah dan dibawa ke masjid Jami’ Al ‘Umawi.
Manusia yang berada di situ tidak terhitung lagi jumlahnya karna banyaknya sekelompok manusia yang hadir pada saat itu.[8]
Semoga Allah mengampuni dosa dan kesalahan beliau dan menempatkannya didalam surga yang tertinggi.

    II.            PENGARUH DAN PERJUANGANNYA DALAM FIQIH
A.    Madzhab Ibnu Taimiyah
Adapun madzhab fiqih beliau adalah Hambali, beliau termasuk dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Namun ada yang berpendapat madzhab Ibnu Taimiyah dalam segi aqidah adalah Al Asy’ariyah.

B.     Peran Ibnu Taimiyah dalam Fiqih
Beliau dijadikan sebagai pusat rujukan fuqoha’, rujukan ulama, dan termasuk ulama yang keras dalam berfatwa, perkataannya, kitabnya, dan karya-karya termasuk juga sangat banyak. Hal ini yang menjadikan Ibnu Taimiyah mencapai derajat untuk berijtihad, bahkan derajatnya mencapai ijtihad yang bersifat umum dan terbuka dari berbagai masalah dan persoalan masyarakat.
Ibnu Hadi mengatakan, “ Syaikh Ibnu Taimiyah mempunyai karya tulis,fatwa, kaidah, jawaban, risalah dan lain-lain yang tidak terhitung jumlahnya. Aku tidak mengetahui ulama yang terdahulu maupun yang terakhir menggumpulkan kitab sebagaimana beliau kumpulkan, mengarang seperti apa yang beliau karang, bahkan mendekatinya pun tidak. Padahal karya-karyanya beliau tulis lansung dengan mengandalkan hafalannya dan ketika beliau berada di penjara, sementara dalam penjara tidak ada kitab-kitab yang beliu gunakan untuk referensi.”[9]
Begitu besar peran Ibnu Taimiyah didalam fiqih.

C.    Keistimewaan Ibnu Taimiyah dalam Fiqih:
1.      Menjelaskan permasalahan fiqih dan menetapkannya dalam madzhab Hambali.
2.     Luasnya pengetahuan beliau dalam permasalahan khilaf diantara madzhahib dan   perkataan madzhahib.
3.   Banyaknya istidlal yang beliau gunakan berdasarkan pada Al Qur’an dan Al Hadist.
4.  Dapat menerapkan dan menggunakan dengan baik ilmu ushul fiqih dalam istidlalnya.
5.      Luasnya cara pandang beliau dalam menguatkan asal permasalahan.
6.      Penjelasan dan istidlal yang digunakan diterapakan pada maqoshid as syar’iyah.
7.      Menjelaskan dengan qowaid al fiqhiyah.[10]


PENUTUP

Alhamdulillah......, akhirnya selesai juga pembahasan biografi Ibnu Taimiyah.
Berbagai rintangan dapat dihantam dengan berbagai usaha yang penulis curahkan untuk menghasilkan karya yang baik, Insya Allah.
Semoga pembaca dapat menggambil setiap hikmah yang terkandung dalam makalah ini.
Penulis menyimpulkan bahwa :
a.       Nama Ibnu Taimiyah adalah Taqiyuddin Abu Al Abbas Ahmad bin Syihabuddin Abi Al Muhasin Abdul Halim bin Majduddin Abi Barkaat Abdussalam bin Abi Muhammad Abdillah bin Abi Qosim Al Khudhr bin Ali bin Abdillah.
b.      Beliau di lahirkan di Haraan, 10 Robi’ul Awwal 661 H.
c.       Beliau sosok yang memiliki kepribadian yang baik dan mulia, yang membuat orang terkagum kepadanya.
d.      Semangat yang tinggi dalam menuntut ilmu, tak kenal lelah dan tak pantang menyerah, walaupun banyaknya ujian atau rintangan yang dihadapinya.
e.       Memiliki guru dan murid yang sangat banyak.
f.       Mampu untuk berfatwa sejak beliau kecil, sehingga mempengaruhinya dalam masalah fiqih, yang tidak ada orang yang mampu menandinginya pada masanya.




DAFTAR PUSTAKA

Muhammad bin Ali Adhabi’i, Bahaya Mengekor Non Muslim, pent. Media Hidayah, cet. 1

Syaikh Ahmad Farid, 60 Biografi Ulama Salaf, pent. Pustaka Al Kautsar, cet. 01

Taqiyuddin Ahmad bin Taimiyah Al Haraani, Majmu’ Fatawa,pent. Darul Hadist, juz 1

http://ismailibnuisa.blogspot.co.id/2014/02/syaikhul-islam-ibnu-taimiyah.html, diakses pada Minggu, 29 April 2018, pukul 08.11

https://www.kutub-pdf.com/author/24.html , PDF Kitab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, diakses pada Minggu, 29 April 2018, pukul 14.39





[1]  Taqiyuddin Ahmad bin Taimiyah Al Haraani, Majmu’ Fatawa,pent. Darul Hadist, juz 1, hal 8-9.
[2]  https://www.kutub-pdf.com/author/24.html , PDF Kitab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, diakses pada Minggu, 29 April 2018, pukul 14.39.
[3]  Syaikh Ahmad Farid, 60 Biografi Ulama Salaf, pent. Pustaka Al Kautsar, cet. 01, hal 783
[4]  Syaikh Ahmad..........., hal  784.
[5] https://www.kutub-pdf.com/author/24.html , PDF Syaikhu Islam Ibnu Taimiyah, diakses pada Minggu, 29 April 2018, pukul 14.39.
[6] http://ismailibnuisa.blogspot.co.id/2014/02/syaikhul-islam-ibnu-taimiyah.html, diakses pada Minggu, 29 April 2018, pukul 08.11.
[7]  Muhammad bin Ali Adhabi’i, Bahaya Mengekor Non Muslim, pent. Media Hidayah, cet. 1,hal 19.
[8]  Syaikh Ahmad Farid.................., hal 809-811.
[9]  Syaikh Ahmad Farid.................., hal 788.
[10] Taqiyuddin Ahmad .........., hal 71-73.



Tidak ada komentar:

Kawan..., silahkan tinggalkan pesan...

Nama

Email *

Pesan *